Curug Sawer Sukabumi


Sambil mengusap peluh yang bercucuran, aku mencari bebatuan untuk duduk. Lumayan juga perjalanan yang harus ditempuh untuk sampai ke air terjun ini sekitar satu jam dengan kondisi jalan yang kadang membingungkan karena minim petunjuk. Pemandangan air terjun yang suaranya bergemuruh yang debet airnya masih kencang hanya berjarak beberapa puluh meter dari tempatku duduk. Tiupan dari uap air yang kadang-kadang menerpa wajahku membuat adem tubuhku. Suasana masih lumayan sejuk walau matahari sudah bersinar terik. Kuletakkan kameraku agak jauh di balik bebatuan agak tidak ikut basah oleh tempias airnya.

Debet air dari air terjun yang tingginya sekitar 50 meter ini masih besar walaupun bukan musim penghujan. Hal itu tidak mengherankan, letaknya yang berada di kawasan Gunung Gede Pangrango yang berada di ketinggian sekitar 1300 mdpl adalah kawasan yang masih terlindungi.

Btw, saat aku mencoba browsing di Internet mencari informasi tentang Curug Sawer ternyata banyak sekali air terjun di sekitar Jawa Barat yang menggunakan nama Curug Sawer. Ada Curug Sawer di Majalengka, ada Curug Sawer di Pandeglang, Curug Sawer di Gunung Halu. Juga ada satu lagi nama Curug Sawer di Tasikmalaya. Duh kok pasaran banget ya kasih nama Curug Sawer.

Melihat Curug Sawer sebenarnya bonus saja bagiku karena dari awal aku tidak punya informasi sedikitpun tentang curug satu ini. Dari awal perjalanan aku hanya berniat mengunjungi Danau Situ Gunung saja yang sudah aku tulis di sini: Kabut Pagi Danau Situ Gunung. Tapi rupanya hari pertama kedatanganku di danau ini pemandangannya tidak seperti yang kuharapkan, cuacanya sangat cerah tanpa kabut pagi sedikitpun.

Sebuah jembatan kayu di depan Curug Sawer
Jam setengah delapan setelah berjalan-jalan di seputaran danau Situ Gunung, akhirnya aku memutuskan untuk menjelajahi sekitar taman nasional ini. Kebetulan sebuah papan petunjuk menunjukkan posisi Curug Sawer, ya udah aku coba ikutin saja. Di jalan kebetulan ada seorang pekerja yang sedang memeriksa jaringan pipa air yang sepertinya ada perbaikan.
"Iya ikut jalan terus saja nanti ada pertigaan di depan itu belok ke kanan yang jalannya naik ke atas," katanya kepadaku saat aku bertanya arah jalan Curug Sawer.

Ya udah, aku berjalan mengikuti petunjuk orang itu. Semakin jauh ke dalam semakin rapat pepohonan. Sempat bertemu sebuah pertigaan namun yang jalan belok ke kanan ada sebuah gerobak diletakkan menutupi jalan, juga ada sebuah kayu yang dipasang menghalangi. Ah, pasti bukan pertigaan ini, aku menduganya. Aku melanjutkan perjalanan tapi beberapa lama tidak melihat pertigaan lagi kecuali jalan setapak aku jadi ragu. Mendekati sebuah jembatan kecil aku bertemu dengan seseorang pria tua yang berjalan dengan memanggul umbi hutan. Ternyata benar, bapak tua tadi mengatakan kalau aku terlewat jauh, seharusnya ke pertigaan yang tadi. Justru sekarang aku mengarah ke curug Cimanaracun. Tanggung, aku sekalian berjalan lurus ke arah curug Cimanaracun yang ditunjuk bapak tua tadi.

Curug Cimanaracun yang debet airnya kecil
Curug Cimanaracun ini ternyata sebuah air terjun yang debet airnya kecil saja. Padahal dengan melihat bentuk bebatuannya, andai saja debet sedikit lebih besar tampaknya menarik juga. Entah nanti kalau di musim hujan, mungkin saja debet lebih kencang. Ya sudah, walau debetnya kecil setidaknya suasananya yang sepi dan rindang enak buat sedikit bersantai sambil mengeringkan kaos yang sudah basah kuyup dengan keringat.

Aku kembali ke arah pertigaan tadi dan mulai berjalan menanjak pelan menuju ke atas. Beberapa ratus meter kemudian aku baru tahu kenapa ada terpasang penghalang di pertigaan. Sebuah pohon besar tumbang menutup jalan setapak, tampaknya pohon ini sudah cukup lama tumbang entah karena apa. Tapi rupanya pohon tumbang bukan satu saja, ada beberapa pohon tumbang yang aku temui sepanjang jalan. Setelah berjalan menyusuri jalan setapak akhirnya aku bertemu dengan jalan yang sedang diperbaiki.

Suspension Bridge yang menjadi jalur singkat ke Curug Sawer
Akhirnya aku tahu, jalan pintas dari Situ Gunung ke Curug Sawer rupanya jalur yang sudah jarang dilewati pengunjung, lebih banyak jalur ini digunakan oleh masyarakat sekitar saja. Jalur baru yang mulai dibangun rupanya langsung dari gerbang masuk menuju ke jembatan gantung. Di papan gerbang jembatan tertulis: Suspension Bridge. Melewati jembatan gantung adalah jalur tercepat ke Curug Sawer. Sayangnya saat itu jembatan gantung terpanjang di Indonesia itu belum dibuka, mungkin sekarang udah dibuka untuk umum ya.

Jembatan kayu di depan Curug Sawer
Karena jalur jembatan belum bisa dilewati aku mengikuti jalur jalan menuruni bukit yang sedang dalam pengerjaan. selain jalur trekking, di salah satu sisi sedang dibangun jalan rata yang sepertinya untuk jalur beroda. DUh tapi dengan kemiringannya bener-bener jalur ekstrim untuk bersepeda di tempat ini.

Disalah satu belokan dekat jembatan ada warung kecil. Ya udah, buat sekalian turunin napas yang agak ngos-ngosan aku mampir ke salah satu warung kecil yang buka di pinggir jalan. Semangkuk mie panas terasa nikmat saat udara dingin seperti ini.

Jembatan anyaman bambu
Setelah melewati beberapa sungai yang dipasangi jembatan dari anyaman bambu, barulah aku bisa mendengar bunyi gemuruh air terjun. Semakin dekat, hal pertama yang aku lihat adalah sebuah lapangan dengan kolam-kolam yang mengelilingi bangunan yang menjual makanan dan minuman. Selain itu juga ada sebuah bangunan yang mirip gelagar jembatan dari tiang-tiang besi yang sedang dilas oleh pekerja. Jelas itu bukan jembatan, mungkinkah itu adalah calon bangunan restoran/cafe dengan pemandangan langsung ke air terjun?

Masih jam 9 pagi, tapi air terjun Sawer telah dipenuhi pengunjung. Bukan pengunjung dari wisatawan melainkan anak-anak pramuka yang sedang melakukan kegiatan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Padahal kata penjual makanan di perlintasan jalan dari danau Situ Gunung ke air terjun Sawer bilang tidak banyak pengunjung yang lewat kesini. Kemungkinan mereka menggunakan jalur lain untuk sampai kesini. Memotret dalam kondisi seperti ini lumayan susah juga karena banyaknya orang yang berlalu lalang.


 

Balik dari Curug Sawer terus terang aku malas lewat jalan yang tadi, jadi aku memilih keluar lewat jembatan pipa air dan masuk ke perkampungan. Jalan ini yang memberitahu penjual mie rebus, katanya warga kampung sekitar biasa lewat jembatan itu jika mau ke Curug Sawer. Cocok, jalan buat wisatawan yang mau gratisan hahaha...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JASA RENOVASI RUMAH DI BOGOR DEPOK JAKARTA TANGGERANG BEKASI

TUKANG BANGUNAN DI BOGOR DEPOK JAKARTA TANGGERANG BEKASI

TOKO BESI DI BOGOR DEPOK JAKARTA TANGGERANG BEKASI TERMURAH