SILSILAH KESULTANAN KERAJAAN BANTEN

SILSILAH KESULTANAN KERAJAAN BANTEN

SILSILAH KESULTANAN KERAJAAN BANTEN,Kerajaan Banten: Sejarah,Silsilah, Raja, Keruntuhan,Peninggalan


Taukah kalian mengenai kerajaan yang satu ini? Yups Kerajaan Banten. Jika kalian masih asing mendengar kerajaan yang satu ini, maka yuksinau.id akan memberikan ulasan yang lengkap mengenai Kerajaan Banten.

Mulai dari sejarah, wilayah kekuasaan, silisilah kerajaan, raja yang pernah memerintah, hingga peninggalan yang dapat kita jumpai hingga saat ini.

Tak usah berbasa-basi lagi, yuk simak ulasan yang di bawah ini.

Sejarah Kerajaan Banten

kejayaan kerajaan banten

 awal abad ke 16, daerah Pajajaran merupakan pusat kerajaan yang beragama Hindu tepatnya di Pakuan atau yang sekarang disebut dengan kota Bogor.

Kerajaan Pajajaran ini mempunyai bandar penting yang berkuasa di beberapa bandar kota yaitu banten, sunda kelapa ( jakarta ) dan cirebon.

Pada saat itu, Kerajaan Pajajaran telah mengadakan kerjasama dengan pihak Portugis, sehingga Portugis dipersilahkan untuk membangun benteng pertahanan dan kantor dagang di Sunda Kelapa.

Untuk mencegah pengaruh Portugis dari kerajaan, kemudian Sultan Trenggono mengutus fatahilah selaku panglima perang dari demak untuk menaklukan bandar yang dibawah Pajajaran.

Selanjutnya armada demak berhasil menguasai banten di tahun 1526.

Pada tanggal 22 juni 1527, Fatahilah juga berhasil menguasai pelabuhan sunda kelapa yang dimana pada saat itu pula nama “sunda kelapa” diubah menjadi “jayakarta” atau “jakarta” yang memiliki makna kota kemenanggan.

Sehingga tanggal 22 Juni dijadikan sebagai hari lahirnya kota Jakarta.

Dalam waktu yang singkat, seluruh daerah pantai utara jawa barat dapat ditaklukan oleh Fatahilah, hal itu juga yang menyebabkan agama islam menyebar di daerah Jawa Barat.

Kemudian, Fatahilah menjadi ulama besar (wali) dengan gelar sunan gunung jati serta memimpin daerah di Cirebon.

Di tahun 1552, Hasanudin yang merupakan putra dari fatahillah diangkat menjadi raja yang berkuasa di wilayah Banten.

Dan Fatahilah mendirikan pusat keagamaan di gunung jati, cirebon hingga beliau wafat di tahun 1568.

Sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa, awal berdirinya kerajaan Banten adalah wilayah kekuasaan kerajaan demak.

Silsilah Kerajaan Banten

raja raja kerajaan banten

Setiap berdirinya suatu kerajaan pastilah memiliki silsilah keluarga kerajaan di dalamnya, begitupun dengan Kerajaan Banten.

Nah berikut merupakan silsilah Kerajaan Banteng dari generasi-ke generasi :

1. Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)

Ia berputra:

  • Ratu Pembayun,
  • Pangeran Pasarean,
  • Pangeran Jayalalana,
  • Maulana Hasanuddin,
  • Pangeran Bratakelana,
  • Ratu Winaon,
  • Pangeran Turusmi.

2. Maulana Hasanuddin – Panembahan Surosowan (1522-1570)

Ia berputra:

  • Ratu Pembayun Fatimah,
  • Maulana Yusuf,
  • Pangeran Arya Jepara,
  • Pangeran Suniararas,
  • Pangeran Pajajaran,
  • Pangeran Pringgalaya,
  • Pangeran Sabrang Lor,
  • Ratu Keben,
  • Ratu Terpenter,
  • Ratu Biru,
  • Ratu Ayu Arsanengah,
  • Pangeran Pajajaran Wado,
  • Tumenggung Wilatikta,
  • Ratu Ayu Kamudarage,
  • Pangeran Sabrang Wetan.

3. Maulana Yusuf – Panembahan Pakalangan Gede (1570-1580)

Ia berputra:

  • Pangeran Arya Upapati,
  • Pangeran Arya Adikara,
  • Pangeran Arya Mandalika,
  • Pangeran Arya Ranamanggala,
  • Pangeran Arya Seminingrat,
  • Ratu Demang,
  • Ratu Pacatanda,
  • Pangeran Manduraraja,
  • Pangeran Widara,
  • Ratu Belimbing,
  • Maulana Muhammad.

4. Maulana Muhammad Pangeran Ratu Ing Banten (1580-1596)

Ia berputra:

  • Pangeran Abdul Mufakir Mahmud Kadir Kenari (Sultan Abdul Kadir)

5. Sultan Abdul Kadir (1596-1647)

Ia berputra:

  • Sultan Abul Maali Ahmad Kenari (putra mahkota),
  • Ratu Dewi, Ratu Ayu,
  • Pangeran Arya Banten,
  • Ratu Mirah, Pangeran Sudamanggala,
  • Pangeran Ranamanggala,
  • Ratu Belimbing,
  • Ratu Gedong,
  • Pangeran Arya Manduraja,
  • Pangeran Kidul,
  • Ratu Dalem,
  • Ratu Lor,
  • Pangeran Seminingrat,
  • Ratu Kidul,
  • Pangeran Arya Wiratmika,
  • Pangeran Arya Danuwangsa,
  • Pangeran Arya Prabangsa,
  • Pangeran Arya Wirasuta,
  • Ratu Gading,
  • Ratu Pandan,
  • Pangeran Arya Wiraasmara,
  • Ratu Sandi,
  • Pangeran Arya Adiwangsa,
  • Pangeran Arya Sutakusuma,
  • Pangeran Arya Jaya Sentika,
  • Ratu Hafsah,
  • Ratu Pojok,
  • Ratu Pacar,
  • Ratu Bangsal,
  • Ratu Salamah,
  • Ratu Ratmala,
  • Ratu Hasanah,
  • Ratu Husaerah,
  • Ratu Kelumpuk,
  • Ratu Jiput,
  • Ratu Wuragil.

6. Sultan Abul Maali Ahmad Kenari (1647-1651)

Ia berputra:

  • Abul Fath Abdul Fattah,
  • Ratu Penenggak,
  • Ratu Nengah,
  • Pangeran Arya Elor,
  • Ratu Wijil Ratu Puspita.

7. Sultan Ageng Tirtayasa Abul Fath Abdul Fattah (1651-1682)

Ia berputra:

  • Sultan Haji,
  • Pangeran Arya Abdul Alim,
  • Pangeran Arya Ingayudadipura,
  • Pangeran Arya Purbaya.
  • Pangeran Sugiri
  • Tubagus Rajasuta
  • Tubagus Rajaputra
  • Tubagus Husaen
  • Raden Mandaraka
  • Raden Saleh
  • Raden Rum
  • Raden Mesir
  • Raden Muhammad
  • Raden Muhsin
  • Tubagus Wetan
  • Tubagus Muhammad ‘Athif
  • Tubagus Abdul
  • Ratu Raja Mirah
  • Ratu Ayu
  • Ratu Kidul
  • Ratu Marta
  • Ratu Adi
  • Ratu Ummu
  • Ratu Hadijah
  • Ratu Habibah
  • Ratu Fatimah
  • Ratu Asyiqoh
  • Ratu Nasibah
  • Tubagus Kulon

8. Sultan Abu Nasr Abdul Kahhar-Sultan Haji (1683-1687)

Ia berputra:

  • Sultan Abdul Fadhal,
  • Sultan Abul Mahasin,
  • Pangeran Muhammad Tahir,
  • Pangeran Fadluddin.
  • Pangeran Ja’farrudin
  • Ratu Muhammad Alim
  • Ratu Rohimah
  • Ratu Ratu Hamimah
  • Pangeran Ksatrian
  • Ratu Mumbay

9. Sultan Abudul Fadhl (1687-1690)

Ia berputra:

– tidak memiliki putra

10. Sultan Abul Mahasin Zainul Abidin (1690-1733)

Ia berputra:

  • Sultan Muhammad Syifa
  • Sultan Muhammad Wasi’
  • Pangeran Yusuf
  • Pangeran Muhammad Shaleh
  • Ratu Samiyah
  • Ratu Komariyah
  • Pangeran Tumenggung
  • Pangeran Ardikusuma
  • Pangeran Anom Mohammad Nuh
  • Ratu Fatimah Putra
  • Ratu Badriyah
  • Pangeran Manduranegara
  • Pangeran Jaya Sentika
  • Ratu Jabariyah
  • Pangeran Abu Hassan
  • Pangeran Dipati Banten
  • Pangeran Ariya
  • Raden Nasut
  • Raden Maksaruddin
  • Pangeran Dipakusuma
  • Ratu Afifah
  • Ratu Siti Adirah
  • Ratu Safiqoh
  • Tubagus Wirakusuma
  • Tubagus Abdurrahman
  • Tubagus Mahaim
  • Raden Rauf
  • Tubagus Abdul Jalal
  • Ratu Hayati
  • Ratu Muhibbah
  • Raden Putera
  • Ratu Halimah
  • Tubagus Sahib
  • Ratu Sa’idah
  • Ratu Satijah
  • Ratu A’dawiyah
  • Tubagus Syarifuddin
  • Ratu ‘Afiyah Ratnaningrat
  • Tubagus Jamil
  • Tubagus Sa’jan
  • Tubagus Haji
  • Ratu Thobiyah
  • Ratu Khairiyah Kumudaningrat
  • Pangeran Rajaningrat
  • Tubagus Jahidi
  • Tubagus Abdul Aziz
  • Pangeran Rajasantika
  • Tubagus Kalamudin
  • Ratu Siti Sa’ban Kusumaningrat
  • Tubagus Abunasir
  • Raden Darmakusuma
  • Raden Hamid
  • Ratu Sifah
  • Ratu Minah
  • Ratu ‘Azizah
  • Ratu Sehah
  • Ratu Suba/Ruba
  • Tubagus Muhammad Said

11. Sultan Muhammad Syifa’ Zainul Arifin (1733-1750)

Ia berputra:

  • Sultan Muhammad Arif
  • Ratu Ayu
  • Tubagus Hasanuddin
  • Raden Raja Pangeran Rajasantika
  • Pangeran Muhammad Rajasantika
  • Ratu ‘Afiyah
  • Ratu Sa’diyah
  • Ratu Halimah
  • Tubagus Abu Khaer
  • Ratu Hayati
  • Tubagus Muhammad Shaleh

12. Sultan Syarifuddin Artu Wakil (1750-1752)

  • tidak berputra

13. Sultan Muhammad Wasi’ Zainul ‘Alimin (1752-1753)

  • tidak berputra

14.Sultan Muhammad ‘Arif Zainul Asyikin (1753-1773)

Ia berputra:

  • Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliyudin
  • Sultan Muhyiddin Zainusholihin
  • Pangeran Manggala
  • Pangeran Suralaya
  • Pangeran Suramanggala

15. Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliyudin

Ia berputra:

  • Sultan Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin
  • Sultan Agilludin
  • Pangeran Darma
  • Pangeran Muhammad Abbas
  • Pangeran Musa
  • Pangeran Yali
  • Pangeran Ahmad

16. Sultan Muhyiddin Zainusholihin (1799-1801)

Ia berputra:

  • Sultan Muhammad Shafiuddin

17. Sultan Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802)

18. Sultan Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1802)

19. Sultan Agilludin – Sultan Aliyudin Il (1803-1808)

20. Sultan Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809)

21. Sultan Muhammad Syafiuddin (1809-1813)

22. Sultan Muhammad Rafiuddin (1813-1820)

Penguasaan Banten

runtuhnya kerajaan banten

Di tahun 1522, Maulana Hasanuddin mendirikan sebuah kompleks istana yang dinamai keraton Surosowan, serta membangun alun-alun, pasar, masjid agung dan juga masjid di kawasan Pacitan.

Sedangkan yang menjadi penguasa di Wahanten Pasisir adalah putra dari Sang Surosowan dan paman dari Maulana Hasanuddin yang bernama Arya Surajaya hingga tahun 1526 m.

Di tahun 1524 m, Sunan Gunung Jati bersama pasukannya yang merupakan gabungan dari kesultanan Cirebon dan juga kesultanan Demak berlabuh di pelabuhan Banten.

Dan pada saat itu, tak ada keterangan bahwa pelabuhan Wahanten Pasisir menghalangi kedatangan pasukan tersebut sehingga pasukan fokus untuk merebut Wahanten Girang.

Dalam catatan sejarah Banten, ketika pasukan tersebut berusaha mencapai Wahanten Girang, Ki Jongjo (seorang kepala prajurit penting) dengan sukarela memihak kepada Maulana Hasanuddin.

Pada sumber lain, menyebutkan bahwa penguasa Banten Girang yang merasa terusik dengan ada banyak aktifitas dakwah Maulana Hasanuddin yang mampu menarik simpati masyarakat termasuk masyarakat yang berada di pedalaman Wahanten yang dimana wilayah itu merupakan kekuasaan Wahanten Girang.

Sehingga pucuk umum Arya Suranggana meminta Maulana Hasanuddin untuk menghentikan aktifitas dakwahnya serta menantangnya untuk melakukan sabung ayam (adu ayam) dengan syarat dimenangkan oleh  Arya Suranggana maka Maulana Hasanuddin harus menghentikan aktifitas dakwahnya.

Kegiatan Sabung Ayam pun berhasil dimenangkan oleh Maulana Hasanuddin dan dia pun melanjutkan aktifitas dakwahnya.

Arya Suranggana serta rakyatnya yang menolak untuk masuk Islam kemudian memilih masuk hutan di wilayah Selatan.

Sepeninggal Arya Suranggana, kompleks Banten Girang dimanfaatkan sebagai pesanggrahan bagi para penguasa Islam sampai di akhir abad ke-17.

Banten Sebagai Kesultanan

silsilah kerajaan banten

Pada tahun 1552, Maulana Hasanuddin diangkat sebagai Sultan di Banten oleh ayahnya yang tidak lain adalah Sunan Gunung Jati, sehingga Kesultanan Banten menjadi kesultanan yang mandiri.

Dalam masa kepimpinannya, Maulana Hasanuddin memperluas kukuasaan kerajaan hingga ke daerah Lampung.

Tak ketinggalan, ia juga menyiarkan agama islam dan juga melakukan kegiatan berdagang dengan raja Malangkabu (Kerajaan Inderapura) yang bernama Sultan Munawar Syah dan beliau Hasanuddin diberikan keris oleh sang raja tersebut.

Anak dari Hasanuddin yang bernama Maulana Yusuf naik tahta ditahun 1570 dan melanjutkan kegiatan 1570 ke daerah pedalaman Sunda dengan menguasai seluruh pedalaman Sunda pada tahun 1579.

Setelah masa kekuasaan Maulana Yusuf berakhir, beliau digantikan oleh putranya yang bernama Maulana Muhammad.

Dan di masa Maulana Muhammad ia mencoba untuk menaklukan Palembang  di tahun 1596 sebagai upaya Kerajaan Banten untuk mempersempit gerakan Portugal di nusantara. Namun sayang misi itu gagal karena beliau tewas pada saat menjalankan misinya.

Pada masa Pangeran Ratu memimpin yang tak lain adalah anak dari Maulana Muhammad, sang ratu menjadi raja pertama di Pulau Jawa yang mempunyai gelar “Sultan” pada tahun 1638 dengan nama Arab Abu al-Mafakhir Mahmud Abdulkadir.

Di masa inilah Sultan Banten telah mulai secara intensif melakukan hubungan diplomasi dengan kekuatan lain yang ada pada masa itu.

Salah satu yang diketahui ada di surat Sultan Banten kepada Raja Inggris, James I tahun 1605 dan tahun 1629 kepada Charles I.

Masa Kejayaan Kerajaan Banten

raja terakhir kerajaan banten

Kerajaan Banten masuk ke dalam kejayaan pada masa pemerintahan Abu Fath Abdul Fatah atau yang lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Sebab pada saat itu, Pelabuhan Banten menjadi pelabuhan internasional yang berdampak kepada perekonomian kerajaan menjadi maju dengan pesat.

Wilayah kekuasaan Kerajaan Banten juga semakin meluas meliputi sisa kerajaan Sunda yang tidak direbut oleh kesultanan Mataram serta wilayah Provinsi Lampung.

Kesultanan Banten juga mengadakan hubungan internasional dengan menggunakan jalur laut sehingga dimasa Sultan Ageng Tirtayasa merupakan masa keemasan Kesultanan Banten.

Pada masa kepemimpinnanya, beliau juga pernah mengutuskan dua orang pengikutnya untuk berkunjung ke Inggris sebagai duta besar disana serta membeli persenjataan.

Tak hanya baik dalam menjalin hubungan dengan Inggris, Sultan Ageng Tirtayasa juga berhubungan baik dengan Aceh, Makassar, India, Mongol, Turki, dan Arab.

Para penguasa Banten juga pernah pergi bersama-sama ke Arab untuk menunaikan ibadah haji serta dilanjutkan ke Inggris untuk menunaikan tugas sebagai utusan dengan menggunakan kapal yang kepunyaan pedagang Inggris.

Sebagai sultan yang ke-6, Sultan Ageng Tirtayasa menegaskan bahwa menentang semua penjajahan bangsa asing atas negaranya.

Ia tidak pernah mau berkompromi dengan pihak Belanda sehingga di tahun 1645 hubungan Banten dengan Belanda semakin memanas.

Pada tahun 1656 pasukan dari kerajaan banten bergerilya di daerah Batavia. Lalu setahun kemudian, pihak Belanda menawarkan perjanjian damai kepada kerajaan Banten.

Karena perjanjian tersebut hanya menguntungkan pihak Belanda, perjanjian pun ditolak hingga pada tahun 1580 meletuslah perang besar antara Banten dan Belanda.

Perang tersebut baru berakhir di tanggal 10 Juli 1659 dengan ditanda tanganinya sebuah perjanjian gencatan senjata.

Sultan Ageng Tirtayasa mempunyai seorang putra mahkota yang bernama Abdul Kohar. Kemudian ia diangkat menjadi putra mahkota di tanggal 16 Februari 1671 bergelar Sunan Abu’n Nasr Abdul Kohar yang lebih dikenal sebagai Sultan Haji.

Kemudian hal itu justru dimanfaatkan oleh pihak Belanda untuk mengadu domba.

Sultan Haji berkeinginan untuk perdamaian dengan Belanda dengan cara mengirimkan surat pada 1680 serta menyatakan bahwa dirinya merupakan penguasa Banten sepenuhnya, bukan lagi Sultan Ageng Tirtayasa.

Pada tanggal 26 Februari 1682, Sultan Ageng Tirtayasa kemudian menyerbu Surosowan yang merupakan tempat Sultan Haji berkedudukan.

Serangan sukses, namun Surosowan direbut oleh pihak Belanda di bawah pimpinan Kapten Tack. Dan kemudian pemerintahan Banten dipegang oleh Sultan Haji.

Setelah Sultan Haji wafat, terjadi perebutan kekuasaan di antara putranya, yang tak lain perseteruan tersebut merupakan akibat campur tangan dari Belanda.

Sejak saat itulah terjadi gonta-ganti sultan dan Kesultanan Banten mulai mengalami kemunduran.

Puncak kehancuran Kesultanan Banten pada masa pemerinatahan Sultan Muhammad Syarifuddin.

Beliau dipaksa turun dari tahta dan Kesultanan Banten dihapus oleh pemerintahan Inggris yang dimana menggantikan Belanda di daerah Banten di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal Raffles. Sejak itulah Kesultanan Banten berakhir.

Perang Saudara

makalah kerajaan banten

Pada tahun 1680 timbul perselisihan diantara keluarga Kesultanan Banten yang tidak jauh dipicu karena masalah perbutan kekuasaan dan pertentangan yang terjadi diantara Sultan Ageng dengan putranya yang bernama Sultan Haji.

Celah ini kemudian dimanfaatkan oleh Vereenigde Oostindische Compagnie  atau VOC untuk mengadu domba dengan dalih memberikan dukungan kepada Sultan Haji, sehingga perang saudarapun tidak bisa dielakan.

Sedangkan untuk memperkuat posisinyaSultan Abu Nashar Abdul Qahar atau Sultan Haji sdempat mengirimkan 2 orang untuk menemui Raja Inggris di London pada tahun 1682 untuk meminta bantuan persenjataan.

Terjadinya perang dingin ini menyebabkan Sultan Ageng terpaksa untuk mundur dari istananya dan berpindah ke kawasan Tirtayasan.

Namun malangnya, di tanggal 28 Desember 1682 kawasan tersebut justru dikuasai oleh Sultan Haji bersama VOC.

Sehingga Sultan Ageng beserta putranya berpindah ke arah selatan pedalaman Sunda. Dan pada tanggal 14 Maret 1683 Sultan Ageng tertangkap dan kemudian di tahan di wilayah Batavia.

Sementara  itu, VOC beserta pasukannya masih terus mengejar dan melakukan perlawanan kepada prajurit dan pengikut Sultan Ageng yang dimana masih berada di dalam kepemimpinan Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf.

Pada tanggal 5 Mei 1683, kemudian VOC mengirimkan Untung Surapati yang mempunyai pangkat letnan beserta prajurit Balinya dan kemudian bergabung dengan pimpinan Letnan Johannes Maurits van Happel untuk menundukkan kawasan Pamotan dan Dayeuh Luhur.

Dan barulah di tanggal 14 Desember 1683 VOC dan bala pasukannya berhasil untuk melawan Syekh Yusuf.

Karena terdesak, akhirnya Pangeran Purbaya menyerahkan diri. Kemudian Untung Surapati diutus oleh Kapten Johan Ruisj untuk menjemput Pangeran Purbaya.

Di dalam perjalanan menuju Batavia, mereka justru bertemu dengan pasukan VOC yang dipimpin oleh Willem Kuffeler namun malah terjadi pertikaian.

Hingga pada akhirnya di tanggal 28 Januari 1684, pasukan dari Willem Kuffeler dihancurkan dan ntung Surapati beserta pengikutnya menjadi buronan VOC.

Sementara Pangeran Purbaya  baru sampai di Batavia pada tanggal 7 Februari 1684.

Runtuhnya Kerajaan Banten

peninggalan kerajaan banten

Seperti yang telah kita ketahui, setelah masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa berakhir, banyak terjadi konflik di dalam kerajaan.

Hal ini disebabkan karena perlawanan oleh sultan kepada pihak penjajah yang tidak disetujui oleh Sultan Haji. Dan celah tersebut dimanfaatkan oleh pihak VOC untuk mengadu domba atau devide et impera.

Kemudian dengan lihainya VOC memutuskan untuk membela pihak Sultan Haji untuk melawan Sultan Ageng Tirtayasa.

Tak hanya sampai situ, VOC juga ikut campur tangan dalam menyukseskan pemimpin di wilayah Banten serta memastikan bahwa raja yang terpilih nantinya adalah raja yang lemah serta tidak akan menjadi potensi kubu perlawanan bagi mereka di kemudian hari.

Tepat di tahun 1680, perselisihan diantara raja semakin tak bisa dihindari. Sehingga VOC melancarkan aksinya dengan dalih membantu Sultan Haji untuk mengalahkan Sultan Ageng Tirtayasa.

Perang dinginpun semakin menjadi sehingga menjadi salah satu penyebab utama keruntuhan Kerajaan Banten.

Peninggalan Kerajaan Banten

wilayah perairan yang dikuasai oleh kerajaan banten adalah

1. Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten adalah salah satu peninggalan bersejarah dari Kerajaan Banten yang hingga kini masih dapat kita jumpai.

Didirikan pada tahun 1652 di masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanudin, masjid ini terletak di Desa Banten Lama, 10 km utara Kota Serang.

Mempunyai corak yang unik dan memiliki nilai historis yang tinggi menjadikan masjid ini ramai dikunjungi oleh para wisatawan.

2. Istana Keraton Kaibon Banten

Istana Keraton Kaibon Banten merupakan tempat tinggal dari ibunda Sultan Syaifudin yang bernama Ratu Aisyah.

Namun di tahun 1832, Banten mengalami bentrok dengan Belanda yang saat itu dipimpin oleh Daendels, sehingga meruntuhkan bangunan tersebut. Jadi, untuk saat ini kita hanya dapat melihat reruntuhannya saja.

3. Istana Keraton Surosowan Banten

Istana yang satu ini merupakan tempat tinggal para sultan Kerajaan Banten yang sekaligus menjadi pusat kepemerintahan.

Namun nasibnya sama dengan istana Keraton Kaibon, hanya tersisa kepingan reruntuhannya saja yang bisa kita jumpai hingga sekarang.

4. Benteng Speelwijk

Tembek setinggi 3 meter ini merupakan bukti bahwa Kerjaan Banten merupakan poros utama maritim nusantara di masa silam.

Di bangun pada tahun 1585, selain digunakan sebagai benteng pertahanan, bangunan ini juga digunakan sebagai tempat untuk mengawasi aktifitas pelayaran di sekitar Selat Sunda.

Di dalam benteng ini terdapat beberapa meriam kuni serta sebuah terowongan yang menghubungkan benteng dan keraton Surosowan.

5. Danau Tasikardi

Danau Tasikardi dibuat pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf yang memiliki luas 5 hektar dan telah dilapisi dengan ubin dan batu bata.

Fungsi dari danau ini pada saat itu sebagai sumber utama pasokan air bagi keluarga kerajaan yang tinggal di istana Kaibon dan juga sebagai irigasi untuk persawahan di sekitar Banten.

Namun sekarang, luas danau tersebut telah mengalami penyusutan karena lapisan batu bata di dasarnya telah tertimbuh tanah sedimen yang terbawa arus sungai.

6. Vihara Avalokitesvara

Meskipun kita ketahui bahwa kerajaan Banten bernuansa islam, namun toleransi yang tercipta di kerajaan itu sangatlah tinggi.

Di buktikan oleh vihara yang bernama Avalokitesvara sebagai tempat ibadah umat Budha.

Dan sampai sekarang, vihara ini masih berdiri dengan kokoh.

Ada keunikan dari vihara yang satu ini, pada bagian temboknya terdapat relief yang mengisahkan siluman ular putih yang melegenda kala itu.

7. Meriam Ki Amuk

Meriam ini terdapat di dalam bangunan benteng Speelwijk. Di namai Ki Amuk sebab daya ledak dari meriam ini sangatlah tinggi serta jarak tembakannya sangatlah jauh.

Konon katanya, meriam ini merupakan hasil rampasan dari pemerintahan kolonial Belanda pada saat terjadinya perang.

Meriam ini merupakan meriam yang paling besar dan unik yang ada di benteng Speelwijk.

8. Peninggalan Lainnya

Selain peninggalan bersejarah dari Kerjaan Banten di atas, terdapat pula peninggalan lainnya seperti mahkota binokasih, keris panunggul naga, dan keris naga sasra yang hingga kini tersimpan dengan baik di dalam Museum Kota Banten...

Itulah sedikit ulasan mengenai Kerajaan Banten yang dapat yuksinau.id berikan, semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan anda. 

Sumber : https://www.yuksinau.id/kerajaan-banten/

Tawasul silsilah merupakan salah cara untuk mempermudah mendapat keilmuan sejarah, untuk kita semua.

  • Nabi Muhammad SAW.

  • Fatimah Az-Zahra binti
  • Al-Husain putera Ali bin Abu Tholib dan Fatimah Az-Zahra binti Muhammad
  • Al-Imam Sayyidina Hussain bin
  • Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin bin
  • Sayyidina Muhammad Al Baqir bin
  • Sayyidina Ja’far As-Sodiq bin
  • Sayyid Al-Imam Ali Uradhi bin
  • Sayyid Muhammad An-Naqib bin
  • Sayyid ‘Isa Naqib Ar-Rumi bin
  • Ahmad al-Muhajir bin
  • Sayyid Al-Imam ‘Ubaidillah bin
  • Sayyid Alawi Awwal bin
  • Sayyid Muhammad Sohibus Saumi’ah bin
  • Sayyid Alawi Ats-Tsani bin
  • Sayyid Ali Kholi’ Qosim bin
  • Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut)
  • Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin
  • Sayyid Amir ‘Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad, India) bin
  • Sayyid Abdullah Al-‘Azhomatu Khan bin
  • Sayyid Ahmad Shah Jalal @ Ahmad Jalaludin Al-Khan bin
  • Sayyid Syaikh Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar Al-Khan bin
  • Sayyid ‘Ali Nuruddin Al-Khan @ ‘Ali Nurul ‘Alam
  • Sayyid ‘Umadtuddin Abdullah Al-Khan bin
  • Sunan Gunung Jati @ Syarif Hidayatullah Al-Khan

SYARIF HIDAYATULLAH – SUNAN GUNUNG JATI berputera :

  1. Ratu Ayu Pembayun
  2. Pangeran Pasarean
  3. Pangeran Jaya Lelana
  4. Maulana Hasanuddin
  5. Pangeran Bratakelana
  6. Ratu Wianon
  7. Pangeran Turusmi

PANGERAN HASANUDDIN – PANEMBAHAN SUROSOWAN (1552-1570) berputera :

  1. Ratu Pembayun
  2. Pangeran Yusuf
  3. Pangeran Arya Japara
  4. Pangeran Suniararas
  5. Pangeran Pajajara
  6. Pangeran Pringgalaya
  7. Pangeran Sabrang Lor
  8. Ratu Keben
  9. Ratu Terpenter
  10. Ratu Biru
  11. Ratu Ayu Arsanengah
  12. Pangeran Pajajaran Wado
  13. Tumenggung Wilatikta
  14. Ratu Ayu Kamudarage
  15. Pangeran Sabrang Wetan

MAULANA YUSUF PANEMBAHAN PAKALANGAN GEDE (1570-1580) berputra :

  1. Pangeran Arya Upapati
  2. Pangeran Arya Adikara
  3. Pangeran Arya Mandalika
  4. Pangeran Arya Ranamanggala
  5. Pangeran Arya Seminingrat
  6. Ratu Demang
  7. Ratu Pecatanda
  8. Ratu Rangga
  9. Ratu Ayu Wiyos
  10. Ratu Manis
  11. Pangeran Manduraraja
  12. Pangeran Widara
  13. Ratu Belimbing
  14. Maulana Muhammad

MAULANA MUHAMMAD PANGERAN RATU ING BANTEN (1580-1596) berputra :

  1. Pangeran Abdul Kadir

SULTAN ABUL MAFAKHIR MAHMUD ‘ABDUL KADIR KENARI (1596-1651) berputra :

  1. Sultan ‘Abdul Maali Ahmad Kenari (Putra Mahkota)
  2. Ratu Dewi
  3. Ratu Ayu
  4. Pangeran Arya Banten
  5. Ratu Mirah
  6. Pangeran Sudamanggala
  7. Pangeran Ranamanggala
  8. Ratu Belimbing
  9. Ratu Gedong
  10. Pangeran Arya Maduraja
  11. Pangeran Kidul
  12. Ratu Dalem
  13. Ratu Lor
  14. Pangeran Seminingrat
  15. Ratu Kidul
  16. Pangeran Arya Wiratmaka
  17. Pangeran Arya Danuwangsa
  18. Pangeran Arya Prabangsa
  19. Pangeran Arya Wirasuta
  20. Ratu Gading
  21. Ratu Pandan
  22. Pangeran Wirasmara
  23. Ratu Sandi
  24. Pangeran Arya Jayaningrat
  25. Ratu Citra
  26. Pangeran Arya Adiwangsa
  27. Pangeran Arya Sutakusuma
  28. Pangeran Arya Jayasantika
  29. Ratu Hafsah
  30. Ratu Pojok
  31. Ratu Pacar
  32. Ratu Bangsal
  33. Ratu Salamah
  34. Ratu Ratmala
  35. Ratu Hasanah
  36. Ratu Husaerah
  37. Ratu Kelumpuk
  38. Ratu Jiput
  39. Ratu Wuragil

PUTRA MAHKOTA SULTAN ‘ABDUL MA’ALI AHMAD, berputera:

  1. Abul Fath Abdul Fattah
  2. Ratu Panenggak
  3. Ratu Nengah
  4. Pangeran Arya Elor
  5. Ratu Wijil
  6. Ratu Puspita
  7. Pangeran Arya Ewaraja
  8. Pangeran Arya Kidul
  9. Ratu Tinumpuk
  10. Ratu Inten
  11. Pangeran Arya Dipanegara
  12. Pangeran Arya Ardikusuma
  13. Pangeran Arya Kulon
  14. Pangeran Arya Wetan
  15. Ratu Ayu Ingalengkadipura

SULTAN AGENG TIRTAYASA -‘ABUL FATH ‘ABDUL FATTAH (1651-1672) berputra :

  1. Sultan Haji
  2. Pangeran Arya ‘abdul ‘Alim
  3. Pangeran Arya Ingayudadipura
  4. Pangeran Arya Purbaya
  5. Pangeran Sugiri
  6. Tubagus Rajasuta
  7. Tubagus Rajaputra
  8. Tubagus Husaen
  9. Raden Mandaraka
  10. Raden Saleh
  11. Raden Rum
  12. Raden Mesir
  13. Raden Muhammad
  14. Raden Muhsin
  15. Tubagus Wetan
  16. Tubagus Muhammad ‘Athif
  17. Tubagus Abdul
  18. Ratu Raja Mirah
  19. Ratu Ayu
  20. Ratu Kidul
  21. Ratu Marta
  22. Ratu Adi
  23. Ratu Ummu
  24. Ratu Hadijah
  25. Ratu Habibah
  26. Ratu Fatimah
  27. Ratu Asyiqoh
  28. Ratu Nasibah
  29. Tubagus Kulon

SULTAN ABU NASR ABDUL KAHHAR – SULTAN HAJI (1672-1687) berputra :

  1. Sultan Abdul Fadhl
  2. Sultan Abul Mahasin
  3. Pangeran Muhammad Thahir
  4. Pangeran Fadhludin
  5. Pangeran Ja’farrudin
  6. Ratu Muhammad Alim
  7. Ratu Rohimah
  8. Ratu Hamimah
  9. Pangeran Ksatrian
  10. Ratu Mumbay (Ratu Bombay)

SULTAN ABUDUL FADHL (1687-1690) berputra :
– Tidak Memiliki Putera

SULTAN ABUL MAHASIN ZAINUL ABIDIN (1690-1733 ) berputra :

  1. Sultan Muhammad Syifa
  2. Sultan Muhammad Wasi’
  3. Pangeran Yusuf
  4. Pangeran Muhammad Shaleh
  5. Ratu Samiyah
  6. Ratu Komariyah
  7. Pangeran Tumenggung
  8. Pangeran Ardikusuma
  9. Pangeran Anom Mohammad Nuh
  10. Ratu Fatimah Putra
  11. Ratu Badriyah
  12. Pangeran Manduranagara
  13. Pangeran Jaya Sentika
  14. Ratu Jabariyah
  15. Pangeran Abu Hassan
  16. Pangeran Dipati Banten
  17. Pangeran Ariya
  18. Raden Nasut
  19. Raden Maksaruddin
  20. Pangeran Dipakusuma
  21. Ratu Afifah
  22. Ratu Siti Adirah
  23. Ratu Safiqoh
  24. Tubagus Wirakusuma
  25. Tubagus Abdurrahman
  26. Tubagus Mahaim
  27. Raden Rauf
  28. Tubagus Abdul Jalal
  29. Ratu Hayati
  30. Ratu Muhibbah
  31. Raden Putera
  32. Ratu Halimah
  33. Tubagus Sahib
  34. Ratu Sa’idah
  35. Ratu Satijah
  36. Ratu ‘Adawiyah
  37. Tubagus Syarifuddin
  38. Ratu ‘Afiyah Ratnaningrat
  39. Tubagus Jamil
  40. Tubagus Sa’jan
  41. Tubagus Haji
  42. Ratu Thoyibah
  43. Ratu Khairiyah Kumudaningrat
  44. Pangeran Rajaningrat
  45. Tubagus Jahidi
  46. Tubagus Abdul Aziz
  47. Pangeran Rajasantika
  48. Tubagus Kalamudin
  49. Ratu Siti Sa’ban Kusumaningrat
  50. Tubagus Abunasir
  51. Raden Darmakusuma
  52. Raden Hamid
  53. Ratu Sifah
  54. Ratu Minah
  55. Ratu ‘Azizah
  56. Ratu Sehah
  57. Ratu Suba/Ruba
  58. Tubagus Muhammad Said (Pg. Natabaya)

SULTAN MUHAMMAD SYIFA’ ZAINUL ARIFIN (1733-1750) berputra :

  1. Sultan Muhammad ‘Arif
  2. Ratu Ayu
  3. Tubagus Hasannudin
  4. Raden Raja Pangeran Rajasantika
  5. Pangeran Muhammad Rajasantika
  6. Ratu ‘Afiyah
  7. Ratu Sa’diyah
  8. Ratu Halimah
  9. Tubagus Abu Khaer
  10. Ratu Hayati
  11. Tubagus Muhammad Shaleh

SULTAN SYARIFUDDIN ARTU WAKIL(1750-1752 )
– Tidak Berputera

SULTAN MUHAMMAD WASI’ ZAINUL ‘ALIMIN (1752-1753)
– Tidak Berputera

SULTAN MUHAMMAD ‘ARIF ZAINUL ASYIKIN (1753-1773) berputra :

  1. Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliyudin
  2. Sultan Muhyiddin Zainusholiohin
  3. Pangeran Manggala
  4. Pangeran Suralaya
  5. Pangeran Suramanggala

SULTAN ABUL MAFAKHIR MUHAMMAD ALIYUDDIN (1773-1799) berputra :

  1. Sultan Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin
  2. Sultan Agilludin (Sultan Aliyuddin II)
  3. Pangeran Darma
  4. Pangeran Muhammad Abbas
  5. Pangeran Musa
  6. Pangeran Yali
  7. Pangeran Ahmad

SULTAN MUHYIDDIN ZAINUSHOLIHIN(1799-1801) berputra :

  1. Sultan Muhammad Shafiuddin

Sultan Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802)
Sultan Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803)
Sultan Agilludin (Sultan Aliyuddin II) (1803-1808)
Sultan Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809)
Sultan Muhammad Syafiuddin (1809-1813)
Sultan Muhammad Rafiuddin (1813-1820)

SEJARAH KEBUYUTAN BANTEN

  1. PRABU DEWARATU PULO PANAITAN
  2. PRABU LANGLANG BUANA GUNUNG LOR PULASARI
  3. PRABU MUNDING KALANGON PUNCAK MANIK GUNUNG LOR PULASARI
  4. PRABU SEDASAKTI TAJO POJOK
  5. PRABU MANDITI GUNUNG KARANG
  6. PRABU BANGKALENG CANGKANG
  7. NYAIMAS RATU WIDARA PUTIH SERAM TENGAH LAUTAN
  8. NYAIMAS DJONG
  9. KYAI AGUS DJU
  10. INDRA KUMALA GUNUNG KARANG PEPITU PAKUAN
  11. MANIK KUMALA SUNGAI CIUJUNG

SEJARAH PERGURUAN PARA WALI TANAH BANTEN

  1. SYEIKH MUHAMMAD SHOLEH GUNUNG SANTRI CILEGON
  2. SYEIKH MUHAMMAD SHIHIB TAGAL PAPA MENGGER
  3. SYEIKH ABDUL RO ’UF PARAJAGATI CINGENGE
  4. SYEIKH ABDUL GHANI MENES
  5. SYEIKH MAHDI CARINGIN LABUAN
  6. SYEIKH ABDURROHMAN ASNAWI CARINGIN LABUAN
  7. SYEIKH WALI DAWUD CINGINDANG LABUAN
  8. SYEIKH KIYAI MACHDUM ABDUL DJALIL KALIMAH BARRONI GUNUNG RAMA SUKOWATI LABUAN
  9. SYEIKH CINDRAWULUNG GUNUNG SINDUR TANGERANG
  10. SYEIKH HAJI KAISAN
  11. SYEIKH HAJI SILAIMAN GUNUNG SINDUR
  12. SYEIKH KANJENG KYAI DALEM MUSTOFA GUNUNG SINDUR
  13. SYEIKH KYAI BAGUS ATIK SULAIMAN CHOLIQ SERPONG

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”.



Dirangkum dan share oleh :

Abdurrohman sukaraja Bogor









Posting Komentar

0 Komentar